Ada satu titik balik dalam hidup saya yang sangat berpengaruh — bukan saat saya berangkat ke Jepang, bukan juga ketika saya mendirikan PT Saitama.
Titik balik itu terjadi ketika saya mengenal NLP (Neuro-Linguistic Programming).
Banyak orang mengenal NLP sebagai “ilmu komunikasi” atau “teknik motivasi.”
Namun bagi saya, NLP bukan sekadar teori. Ia adalah ilmu kehidupan — cara baru memandang diri, orang lain, dan realitas di sekitar kita.
Dan saya bisa katakan dengan yakin: tanpa NLP, saya mungkin tidak akan mampu memimpin dengan cara seperti sekarang.

Awal Perkenalan Saya dengan NLP
Setelah beberapa tahun menjalankan LPK Saitama, saya sering menemui satu tantangan besar:
Banyak peserta yang cerdas secara teknis, tapi tidak percaya diri secara mental.
Mereka tahu apa yang harus dilakukan, tapi tidak yakin bisa melakukannya.
Mereka punya kemampuan, tapi sering kalah duluan oleh pikiran negatif.
Sebagai pembina dan pelatih, saya mulai bertanya pada diri sendiri:
“Bagaimana caranya saya bisa membantu mereka mengubah cara berpikir — bukan hanya cara bekerja?”
Pertanyaan itulah yang akhirnya mempertemukan saya dengan NLP.
Saya mulai belajar dan mendalami NLP hingga menjadi Certified NLP Practitioner dan Trainer.
Dan dari situ, hidup saya berubah arah — bukan hanya sebagai pelatih, tapi juga sebagai manusia yang lebih sadar terhadap pikiran dan emosi.
Apa Itu NLP Menurut Saya
Secara sederhana, NLP adalah ilmu tentang bagaimana otak (Neuro), bahasa (Linguistic), dan pola perilaku (Programming) saling terhubung dan bisa diubah untuk mencapai hasil yang kita inginkan.
Atau kalau saya boleh sederhanakan:
“NLP mengajarkan kita bagaimana mengendalikan pikiran, bukan dikendalikan oleh pikiran.”
Kita semua punya program dalam otak — hasil dari pengalaman, pendidikan, dan lingkungan.
Masalahnya, banyak dari program itu berjalan otomatis tanpa kita sadari.
Ada yang positif, tapi banyak juga yang negatif:
- “Saya tidak bisa.”
- “Saya tidak pantas.”
- “Saya takut gagal.”
Kalimat-kalimat seperti itu tanpa disadari membatasi potensi kita.
Dan di situlah NLP bekerja: mengubah bahasa dalam pikiran kita agar sejalan dengan tujuan hidup kita.
Transformasi Pribadi: Dari Reaktif ke Reflektif
Sebelum mengenal NLP, saya termasuk orang yang sangat reaktif.
Kalau ada masalah di bisnis, saya langsung stres. Kalau ada kesalahan tim, saya cepat kecewa.
Saya pikir, menjadi pemimpin itu berarti harus selalu kuat dan tahu semua jawaban.
Tapi setelah belajar NLP, saya memahami satu hal penting:
“Kita tidak bisa mengontrol semua situasi, tapi kita bisa mengontrol cara kita menanggapinya.”
Saya belajar untuk tidak langsung bereaksi, tapi berefleksi.
Saya mulai memperhatikan state of mind — kondisi emosional yang memengaruhi keputusan saya.
Saya belajar mengubah state negatif (marah, cemas, ragu) menjadi state positif (tenang, fokus, optimis) dengan teknik sederhana seperti:
- Anchoring (menautkan perasaan positif pada momen tertentu)
- Reframing (melihat masalah dari sudut pandang berbeda)
- Visualization (membayangkan hasil sukses secara detail)
Hasilnya luar biasa.
Saya menjadi lebih tenang dalam mengambil keputusan, lebih sabar menghadapi peserta, dan lebih jernih dalam memimpin tim.
NLP dalam Kepemimpinan dan Pelatihan
Saya kemudian mulai menerapkan NLP dalam pengelolaan perusahaan saya yaitu LPK Saitama dan Ayaka Josei Center. Saya menyadari bahwa melatih bahasa dan keterampilan saja tidak cukup — kita harus melatih cara berpikir.
Contohnya, ketika peserta merasa tidak percaya diri menghadapi wawancara kerja di Jepang, saya tidak langsung memberikan tips teknis.
Saya ajak mereka mengubah internal dialogue — suara dalam pikiran mereka sendiri.
Dari yang awalnya berkata:
“Saya takut salah ngomong.”
Saya ajarkan untuk menggantinya menjadi:
“Saya siap berbagi apa yang sudah saya pelajari dengan tenang.”
Sederhana, tapi dampaknya besar. Karena begitu pikiran berubah, perilaku dan hasil pun ikut berubah.
Bagi saya, inilah kekuatan sejati NLP: mengubah dari dalam ke luar.
NLP dalam Dunia Bisnis
Sebagai seorang pengusaha dan pimpinan PT Saitama, saya juga menggunakan prinsip NLP dalam manajemen tim dan komunikasi bisnis.
Salah satu prinsip yang saya pegang:
“Peta bukan wilayah.”
Artinya, cara pandang seseorang terhadap dunia hanyalah “peta” dalam pikirannya, bukan kebenaran mutlak.
Dengan memahami ini, saya bisa lebih bijak menghadapi perbedaan sudut pandang antara anggota tim, klien, atau peserta pelatihan.
Saya belajar mendengarkan dengan empati, bukan sekadar menunggu giliran bicara.
Dan ternyata, ketika kita memahami cara berpikir orang lain, komunikasi menjadi lebih efektif.
Tidak ada lagi salah paham yang berujung konflik — yang ada hanyalah kolaborasi dan saling menguatkan.
NLP dan Law of Attraction: Dua Energi yang Saling Melengkapi
Saya kemudian menemukan bahwa NLP dan Law of Attraction (LOA) berjalan beriringan.
NLP membantu kita mengubah cara berpikir, sedangkan LOA membantu kita menarik energi sesuai pikiran itu.
Jika NLP adalah ilmu mengatur pikiran, maka LOA adalah seni mengatur energi.
Dan ketika keduanya digunakan bersama, hidup menjadi jauh lebih terarah.
Saya sering mengajarkan kepada peserta dan rekan trainer:
“Apa yang kamu pikirkan, kamu rasakan.
Apa yang kamu rasakan, kamu pancarkan.
Dan apa yang kamu pancarkan, itulah yang kamu tarik.”
Otak kita adalah magnet yang sangat kuat — tapi magnet itu hanya bekerja kalau kita tahu bagaimana mengarahkannya dengan benar.
NLP dan Misi Saya untuk Indonesia
Sebagai NLP Trainer dan penggerak di dunia pelatihan kerja, misi saya bukan hanya mencetak tenaga kerja berkualitas, tapi mencetak manusia yang sadar akan kekuatan pikirannya.
Saya ingin generasi muda Indonesia memahami bahwa kesuksesan tidak hanya tentang skill dan sertifikat, tapi tentang mindset dan keyakinan diri.
Saya percaya, bangsa ini akan menjadi besar ketika anak mudanya belajar mengelola pikirannya sebelum mengelola kariernya.
Itulah sebabnya setiap kali saya mengajar, saya selalu menekankan tiga hal:
- Sadari cara berpikirmu.
- Ubah bahasa negatif menjadi bahasa kekuatan.
- Fokus pada solusi, bukan masalah.
Karena perubahan besar selalu dimulai dari pikiran kecil yang kita ubah hari ini.
Hidup yang Terkendali Adalah Hidup yang Disadari
Dulu saya pikir hidup adalah tentang bertahan dan bekerja keras. Sekarang saya paham, hidup adalah tentang memahami diri sendiri — dan mengarahkan potensi itu menuju kebaikan yang lebih besar.
NLP mengajarkan saya untuk:
- Lebih tenang saat menghadapi tantangan,
- Lebih fokus pada hasil yang saya inginkan, dan
- Lebih sadar bahwa setiap kata, pikiran, dan tindakan memiliki energi.
Dan kini, saya ingin menularkan kesadaran itu kepada siapa pun yang ingin berkembang — baik di dunia kerja, bisnis, maupun kehidupan pribadi.
Karena pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya soal apa yang kita capai, tapi siapa kita menjadi selama proses itu berlangsung.
Simple Action:
Sudahkah Anda mengenali “program pikiran” yang mengendalikan hidup Anda?
Tuliskan satu keyakinan positif baru yang ingin Anda tanamkan mulai hari ini 🌱




