ALFSAITAMA.COM

Bagaimana NLP Mengubah Cara Saya Berpikir dan Mengelola Hidup

Bagaimana NLP Mengubah Cara Saya Berpikir dan Mengelola Hidup

Ada satu titik balik dalam hidup saya yang sangat berpengaruh — bukan saat saya berangkat ke Jepang, bukan juga ketika saya mendirikan PT Saitama.
Titik balik itu terjadi ketika saya mengenal NLP (Neuro-Linguistic Programming).

Banyak orang mengenal NLP sebagai “ilmu komunikasi” atau “teknik motivasi.”
Namun bagi saya, NLP bukan sekadar teori. Ia adalah ilmu kehidupan — cara baru memandang diri, orang lain, dan realitas di sekitar kita.

Dan saya bisa katakan dengan yakin: tanpa NLP, saya mungkin tidak akan mampu memimpin dengan cara seperti sekarang.

Awal Perkenalan Saya dengan NLP

Setelah beberapa tahun menjalankan LPK Saitama, saya sering menemui satu tantangan besar:
Banyak peserta yang cerdas secara teknis, tapi tidak percaya diri secara mental.

Mereka tahu apa yang harus dilakukan, tapi tidak yakin bisa melakukannya.
Mereka punya kemampuan, tapi sering kalah duluan oleh pikiran negatif.

Sebagai pembina dan pelatih, saya mulai bertanya pada diri sendiri:

“Bagaimana caranya saya bisa membantu mereka mengubah cara berpikir — bukan hanya cara bekerja?”

Pertanyaan itulah yang akhirnya mempertemukan saya dengan NLP.
Saya mulai belajar dan mendalami NLP hingga menjadi Certified NLP Practitioner dan Trainer.
Dan dari situ, hidup saya berubah arah — bukan hanya sebagai pelatih, tapi juga sebagai manusia yang lebih sadar terhadap pikiran dan emosi.

Apa Itu NLP Menurut Saya

Secara sederhana, NLP adalah ilmu tentang bagaimana otak (Neuro), bahasa (Linguistic), dan pola perilaku (Programming) saling terhubung dan bisa diubah untuk mencapai hasil yang kita inginkan.

Atau kalau saya boleh sederhanakan:

“NLP mengajarkan kita bagaimana mengendalikan pikiran, bukan dikendalikan oleh pikiran.”

Kita semua punya program dalam otak — hasil dari pengalaman, pendidikan, dan lingkungan.
Masalahnya, banyak dari program itu berjalan otomatis tanpa kita sadari.
Ada yang positif, tapi banyak juga yang negatif:

  • “Saya tidak bisa.”
  • “Saya tidak pantas.”
  • “Saya takut gagal.”

Kalimat-kalimat seperti itu tanpa disadari membatasi potensi kita.
Dan di situlah NLP bekerja: mengubah bahasa dalam pikiran kita agar sejalan dengan tujuan hidup kita.

Transformasi Pribadi: Dari Reaktif ke Reflektif

Sebelum mengenal NLP, saya termasuk orang yang sangat reaktif.
Kalau ada masalah di bisnis, saya langsung stres. Kalau ada kesalahan tim, saya cepat kecewa.
Saya pikir, menjadi pemimpin itu berarti harus selalu kuat dan tahu semua jawaban.

Tapi setelah belajar NLP, saya memahami satu hal penting:

“Kita tidak bisa mengontrol semua situasi, tapi kita bisa mengontrol cara kita menanggapinya.”

Saya belajar untuk tidak langsung bereaksi, tapi berefleksi.
Saya mulai memperhatikan state of mind — kondisi emosional yang memengaruhi keputusan saya.
Saya belajar mengubah state negatif (marah, cemas, ragu) menjadi state positif (tenang, fokus, optimis) dengan teknik sederhana seperti:

  • Anchoring (menautkan perasaan positif pada momen tertentu)
  • Reframing (melihat masalah dari sudut pandang berbeda)
  • Visualization (membayangkan hasil sukses secara detail)

Hasilnya luar biasa.

Saya menjadi lebih tenang dalam mengambil keputusan, lebih sabar menghadapi peserta, dan lebih jernih dalam memimpin tim.

NLP dalam Kepemimpinan dan Pelatihan

Saya kemudian mulai menerapkan NLP dalam pengelolaan perusahaan saya yaitu LPK Saitama dan Ayaka Josei Center. Saya menyadari bahwa melatih bahasa dan keterampilan saja tidak cukup — kita harus melatih cara berpikir.

Contohnya, ketika peserta merasa tidak percaya diri menghadapi wawancara kerja di Jepang, saya tidak langsung memberikan tips teknis.

Saya ajak mereka mengubah internal dialogue — suara dalam pikiran mereka sendiri.

Dari yang awalnya berkata:

“Saya takut salah ngomong.”
Saya ajarkan untuk menggantinya menjadi:
“Saya siap berbagi apa yang sudah saya pelajari dengan tenang.”

Sederhana, tapi dampaknya besar. Karena begitu pikiran berubah, perilaku dan hasil pun ikut berubah.

Bagi saya, inilah kekuatan sejati NLP: mengubah dari dalam ke luar.

NLP dalam Dunia Bisnis

Sebagai seorang pengusaha dan pimpinan PT Saitama, saya juga menggunakan prinsip NLP dalam manajemen tim dan komunikasi bisnis.

Salah satu prinsip yang saya pegang:

“Peta bukan wilayah.”
Artinya, cara pandang seseorang terhadap dunia hanyalah “peta” dalam pikirannya, bukan kebenaran mutlak.

Dengan memahami ini, saya bisa lebih bijak menghadapi perbedaan sudut pandang antara anggota tim, klien, atau peserta pelatihan.

Saya belajar mendengarkan dengan empati, bukan sekadar menunggu giliran bicara.

Dan ternyata, ketika kita memahami cara berpikir orang lain, komunikasi menjadi lebih efektif.
Tidak ada lagi salah paham yang berujung konflik — yang ada hanyalah kolaborasi dan saling menguatkan.

NLP dan Law of Attraction: Dua Energi yang Saling Melengkapi

Saya kemudian menemukan bahwa NLP dan Law of Attraction (LOA) berjalan beriringan.
NLP membantu kita mengubah cara berpikir, sedangkan LOA membantu kita menarik energi sesuai pikiran itu.

Jika NLP adalah ilmu mengatur pikiran, maka LOA adalah seni mengatur energi.
Dan ketika keduanya digunakan bersama, hidup menjadi jauh lebih terarah.

Saya sering mengajarkan kepada peserta dan rekan trainer:

“Apa yang kamu pikirkan, kamu rasakan.
Apa yang kamu rasakan, kamu pancarkan.
Dan apa yang kamu pancarkan, itulah yang kamu tarik.”

Otak kita adalah magnet yang sangat kuat — tapi magnet itu hanya bekerja kalau kita tahu bagaimana mengarahkannya dengan benar.

NLP dan Misi Saya untuk Indonesia

Sebagai NLP Trainer dan penggerak di dunia pelatihan kerja, misi saya bukan hanya mencetak tenaga kerja berkualitas, tapi mencetak manusia yang sadar akan kekuatan pikirannya.

Saya ingin generasi muda Indonesia memahami bahwa kesuksesan tidak hanya tentang skill dan sertifikat, tapi tentang mindset dan keyakinan diri.

Saya percaya, bangsa ini akan menjadi besar ketika anak mudanya belajar mengelola pikirannya sebelum mengelola kariernya.

Itulah sebabnya setiap kali saya mengajar, saya selalu menekankan tiga hal:

  1. Sadari cara berpikirmu.
  2. Ubah bahasa negatif menjadi bahasa kekuatan.
  3. Fokus pada solusi, bukan masalah.

Karena perubahan besar selalu dimulai dari pikiran kecil yang kita ubah hari ini.

Hidup yang Terkendali Adalah Hidup yang Disadari

Dulu saya pikir hidup adalah tentang bertahan dan bekerja keras. Sekarang saya paham, hidup adalah tentang memahami diri sendiri — dan mengarahkan potensi itu menuju kebaikan yang lebih besar.

NLP mengajarkan saya untuk:

  • Lebih tenang saat menghadapi tantangan,
  • Lebih fokus pada hasil yang saya inginkan, dan
  • Lebih sadar bahwa setiap kata, pikiran, dan tindakan memiliki energi.

Dan kini, saya ingin menularkan kesadaran itu kepada siapa pun yang ingin berkembang — baik di dunia kerja, bisnis, maupun kehidupan pribadi.

Karena pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya soal apa yang kita capai, tapi siapa kita menjadi selama proses itu berlangsung.

Simple Action:

Sudahkah Anda mengenali “program pikiran” yang mengendalikan hidup Anda?
Tuliskan satu keyakinan positif baru yang ingin Anda tanamkan mulai hari ini 🌱

3 Nilai Utama yang Saya Pelajari di Jepang: Disiplin, Etos Kerja, dan Rasa Tanggung Jawab

3 Nilai Utama yang Saya Pelajari di Jepang: Disiplin, Etos Kerja, dan Rasa Tanggung Jawab

Ada satu hal yang sering saya katakan kepada peserta pelatihan di PT Saitama:

“Kamu boleh tidak pintar, tapi kamu tidak boleh tidak disiplin.”

Kalimat itu bukan sekadar nasihat kosong. Ia lahir dari pengalaman pribadi saya — pengalaman hidup selama hampir tiga tahun di Jepang yang benar-benar mengubah cara saya berpikir, bekerja, dan memandang kehidupan.

Jepang bukan hanya negara yang maju secara teknologi. Jepang adalah negara yang maju karena mentalitas manusianya.

Dan dari negeri itu, saya membawa pulang tiga nilai utama yang sampai hari ini menjadi pondasi hidup dan budaya kerja di PT Saitama.

1. Disiplin: Menghargai Waktu, Menghargai Diri Sendiri

Bagi orang Jepang, waktu bukan sekadar angka di jam tangan. Waktu adalah bentuk penghargaan terhadap kehidupan itu sendiri.

Saya masih ingat jelas, di hari pertama bekerja di KOEICMC Co., LTD, saya datang tepat waktu — atau lebih tepatnya, tepat di waktu mulai kerja. Tapi supervisor saya menegur dengan sopan:

“Datang tepat waktu artinya kamu sudah terlambat lima menit.”

Saya sempat bingung. Tapi lama-lama saya paham maksudnya.
Orang Jepang tidak menunggu waktu kerja dimulai untuk bersiap — mereka datang lebih awal, menyiapkan diri, dan memastikan semua siap sebelum waktu resmi dimulai.

Itulah makna disiplin sejati: bukan sekadar hadir, tapi hadir dengan persiapan.

Ketika kembali ke Indonesia, saya melihat bagaimana banyak orang punya impian besar tapi gagal karena tidak disiplin. Mereka ingin sukses, tapi menunda. Ingin maju, tapi tidak konsisten.

Padahal, disiplin adalah jembatan antara niat dan hasil.

Itulah sebabnya di LPK dan PT Saitama, saya menanamkan budaya disiplin dari hal-hal kecil:

  • Tepat waktu masuk kelas dan kerja
  • Menyelesaikan tugas sebelum tenggat
  • Menjaga kebersihan dan kerapian ruang latihan

Karena saya percaya, orang yang tidak bisa mengatur waktunya, akan diatur oleh keadaannya.

2. Etos Kerja: Memberikan yang Terbaik, Bukan Sekadar Selesai

Nilai kedua yang saya pelajari di Jepang adalah etos kerja. Di sana, bekerja bukan hanya mencari uang — tapi bentuk ekspresi diri dan kebanggaan.

Saya melihat bagaimana para pekerja Jepang memperlakukan pekerjaan mereka dengan rasa hormat luar biasa.
Mereka tidak perlu diawasi, tidak perlu disuruh berulang kali.
Karena bagi mereka, kerja adalah cermin karakter.

Saya pernah melihat seorang pekerja tua membersihkan lantai pabrik dengan penuh ketelitian. Saya sempat bertanya, “Kenapa Bapak sebersungguh itu hanya untuk mengepel lantai?” Ia menjawab dengan tenang:

“Kalau saya bekerja asal-asalan, berarti saya tidak menghargai diri saya sendiri.”

Jawaban sederhana, tapi menampar keras.

Etos kerja seperti inilah yang saya ingin tanamkan kepada setiap peserta di PT Saitama.
Bahwa ketika kamu bekerja, lakukan dengan sepenuh hati. Karena kualitas kerja bukan hanya soal hasil akhir — tapi tentang niat dan cara kamu menjalaninya.

Saya selalu berkata:

“Kalau kamu tidak bisa menjadi yang terbaik, jadilah yang paling bisa dipercaya.”

Dan kepercayaan itu hanya datang dari konsistensi etos kerja.

3. Rasa Tanggung Jawab: Menyelesaikan yang Kita Mulai

Nilai ketiga — dan mungkin yang paling kuat — adalah tanggung jawab.

Di Jepang, tanggung jawab bukan hanya kewajiban formal. Ia sudah menjadi budaya yang melekat dalam setiap tindakan.

Kalau ada kesalahan, orang Jepang tidak mencari kambing hitam. Mereka refleksi dan berkata:

“Sumimasen. Ini tanggung jawab saya.”

Saya teringat satu kejadian waktu di pabrik. Ada kesalahan kecil dalam proses kerja tim kami. Walau bukan kesalahan saya secara langsung, saya ikut minta maaf. Supervisor saya menepuk bahu dan berkata:

“Kamu mengerti arti kerja tim — itulah tanggung jawab yang sebenarnya.”

Sejak itu saya paham, tanggung jawab bukan tentang siapa yang salah, tapi siapa yang peduli.

Di dunia kerja, banyak yang ingin mendapat hasil tapi sedikit yang mau bertanggung jawab terhadap proses.
Padahal, tanggung jawab itulah yang membentuk karakter sejati seorang profesional.

Ketika saya mendirikan LPK Saitama, saya menanamkan nilai ini dalam setiap kegiatan. Kalau peserta salah, kita tidak langsung marah — kita ajarkan mereka bertanggung jawab, memperbaiki, dan belajar dari kesalahan. Karena saya percaya, setiap orang bisa salah, tapi tidak semua orang mau memperbaikinya.

Nilai-nilai Ini Menjadi Jiwa PT Saitama

LPK Saitama Mendapatkan Kunjungan dari Perusahaan Jepang
LPK Saitama Mendapatkan Kunjungan dari Perusahaan Jepang pada Juli 2024.

Disiplin, etos kerja, dan tanggung jawab — tiga nilai inilah yang menjadi DNA PT Saitama.

Kami tidak sekadar mengirim tenaga kerja ke Jepang. Kami membina manusia agar siap menghadapi kehidupan dengan karakter yang kuat.

Setiap kali saya melihat alumni kami berhasil di Jepang, saya merasa haru. Bukan hanya karena mereka sukses secara materi, tapi karena mereka membawa nama baik Indonesia dengan perilaku yang terhormat.

Bagi saya, itu adalah bentuk keberhasilan tertinggi: melihat orang lain tumbuh dari nilai-nilai yang kita tanam.

Bagaimana Nilai Ini Mempengaruhi Kehidupan Pribadi Saya

Nilai-nilai ini tidak hanya saya terapkan di dunia kerja, tapi juga dalam kehidupan pribadi.

Saya belajar untuk selalu menepati janji, menjaga komitmen, dan tidak menunda apa pun yang bisa saya kerjakan hari ini.

Karena saya tahu, setiap tindakan kecil yang konsisten akan menghasilkan hasil besar di masa depan.

Sebagai seorang NLP Trainer dan Law of Attraction Trainer, saya menemukan bahwa disiplin dan tanggung jawab bukan hanya urusan kebiasaan, tapi juga energi.

Ketika kita hidup dengan etos kerja positif, kita memancarkan frekuensi yang menarik peluang, kepercayaan, dan keberkahan.

Pesan untuk Generasi Muda Indonesia

Untuk anak-anak muda Indonesia yang bermimpi bekerja di luar negeri — atau sekadar ingin sukses di negeri sendiri — saya ingin mengatakan ini:

“Jangan hanya belajar bahasa dan keterampilan. Belajarlah juga cara berpikir dan bersikap.”

Karena di dunia kerja global, yang membedakan kita bukan hanya apa yang kita tahu, tapi bagaimana kita bekerja, bertanggung jawab, dan menjaga integritas.

Mulailah dari hal kecil:

  • Datang tepat waktu
  • Selesaikan tugas dengan tuntas
  • Jangan menunggu disuruh
  • Dan selalu bertanya pada diri sendiri: Apakah saya sudah memberikan yang terbaik hari ini?

Penutup

Tiga nilai yang saya pelajari di Jepang — disiplin, etos kerja, dan tanggung jawab — telah menjadi fondasi hidup saya, fondasi lembaga saya, dan fondasi bagi setiap peserta pelatihan yang saya bimbing.

Saya percaya, jika tiga nilai ini hidup di hati setiap anak muda Indonesia, maka kita tidak hanya akan punya tenaga kerja unggul, tapi bangsa yang disegani.

Perjalanan Hidup Saya: Dari Magelang ke Jepang dan Kembali untuk Mengabdi

Perjalanan Hidup Saya: Dari Magelang ke Jepang dan Kembali untuk Mengabdi

Ada sebuah pepatah Jepang yang selalu saya pegang teguh:

“Nana korobi, ya oki” — jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali.

Kalimat sederhana itu menggambarkan perjalanan hidup saya dengan sangat tepat. Saya lahir dan besar di Magelang, sebuah kota yang tenang namun sarat nilai perjuangan. Dari kota kecil inilah saya menapaki perjalanan yang membawa saya ke negeri Sakura — Jepang — lalu kembali dengan satu tekad: mengabdi untuk membangun generasi muda Indonesia agar mampu berdiri tegak di panggung dunia.

Awal Perjalanan: Impian Anak Magelang

Sejak muda, saya selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia luar. Saya melihat Jepang bukan hanya sebagai negara maju secara teknologi, tetapi juga maju dalam mentalitas manusianya — disiplin, pekerja keras, dan punya komitmen yang luar biasa terhadap kualitas.

Pada tahun 2007, saya berkesempatan berangkat ke Jepang melalui program magang resmi IM Japan, dan ditempatkan di KOEICMC Co., LTD. Saat itu, saya tidak hanya membawa koper dan paspor, tetapi juga membawa harapan besar dari keluarga dan doa dari kampung halaman.

Saya masih ingat hari pertama di pabrik. Bahasa Jepang saya belum lancar, ritme kerja cepat, dan standar sangat tinggi. Tapi saya belajar satu hal penting: di Jepang, tidak ada kata setengah-setengah. Kalau mengerjakan sesuatu, lakukan dengan sepenuh hati dan tepat waktu.

Itulah pelajaran pertama saya tentang profesionalisme sejati.

Pelajaran dari Negeri Sakura

Selama hampir tiga tahun di Jepang, saya belajar lebih dari sekadar pekerjaan teknis. Saya belajar tentang disiplin diri, tanggung jawab pribadi, dan rasa malu jika tidak memberikan yang terbaik.

Setiap pagi, kami mulai bekerja tepat waktu. Tidak ada yang datang terlambat. Tidak ada alasan.
Jika ada kesalahan, kami tidak menyalahkan orang lain — kami refleksi, memperbaiki, dan berjanji tidak mengulanginya.

Dari sanalah saya memahami bahwa keberhasilan bukanlah hasil keberuntungan, melainkan hasil kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Saya melihat bagaimana orang Jepang menghormati waktu, menghargai pekerjaan, dan menjaga kehormatan diri lewat hasil kerja. Itu mengubah cara pandang saya terhadap hidup dan kesuksesan.
Dan yang paling penting: saya belajar menghormati proses.

Kembali ke Indonesia: Menanam Nilai, Bukan Sekadar Membangun Lembaga

Sekembalinya ke Indonesia, saya membawa misi baru: bagaimana agar nilai-nilai baik yang saya pelajari di Jepang bisa menjadi bagian dari mentalitas generasi muda kita?

Tahun 2013 menjadi titik awal perjalanan itu. Saya mendirikan LPK Saitama, sebuah lembaga pelatihan kerja yang berfokus menyiapkan anak muda Indonesia untuk bekerja di Jepang melalui jalur resmi pemerintah.

Namun sejak awal, saya tidak ingin lembaga ini hanya sekadar tempat pelatihan bahasa.
Saya ingin menjadikannya pusat pembentukan karakter.
Karena saya percaya, kemampuan teknis tanpa mentalitas yang kuat hanya akan menghasilkan pekerja — bukan pemimpin.

Maka setiap program di LPK Saitama kami rancang dengan sentuhan nilai: disiplin, tanggung jawab, ketulusan, dan rasa syukur. Kami ingin anak-anak muda kita tidak hanya bisa “bekerja di Jepang”, tapi juga “berpikiran seperti orang Jepang dan berhati seperti orang Indonesia.”

Dari LPK ke PT Saitama: Mimpi yang Tumbuh Bersama Waktu

Gambar Pak Alfa dengan Bupati Magelang
Foto Mas Alfa dengan Bupati Magelang

Perjalanan LPK Saitama tidak selalu mudah. Ada masa-masa sulit, penuh tantangan administratif dan persaingan. Tapi setiap hambatan saya pandang sebagai ujian kesungguhan.

Selangkah demi selangkah, lembaga kami tumbuh. Hingga akhirnya, pada tahun 2023, LPK Saitama resmi berkembang menjadi PT Saitama.

Transformasi ini bukan hanya soal status hukum, tapi juga perluasan visi. Kami ingin bukan hanya melatih, tapi juga membina dan memberdayakan generasi muda Indonesia. Dari sinilah kemudian lahir Ayaka Josei Center — pusat pelatihan perempuan untuk bidang Kaigo (perawatan lansia) yang kami bangun dengan penuh kasih dan kesungguhan.

Saya percaya, perempuan adalah tiang keluarga, dan ketika mereka berdaya, maka bangsa ini akan lebih kuat. Ayaka Josei Center menjadi bentuk nyata komitmen kami dalam memberdayakan perempuan Indonesia dengan profesionalisme dan kemandirian.

Filosofi Hidup: Sukses yang Sesungguhnya

Dari pengalaman panjang ini, saya menyimpulkan satu hal:

Kesuksesan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi kita naik, tetapi dari seberapa banyak orang yang kita bantu untuk ikut naik bersama kita.

Saya tidak ingin hanya sukses secara pribadi. Saya ingin membangun sistem yang bisa membuat ribuan anak muda Indonesia menemukan jalan suksesnya sendiri — dengan cara yang jujur, disiplin, dan bermartabat.

Karena itu, saya tidak pernah berhenti belajar. Saat ini saya sedang menempuh S2 Manajemen di Universitas Muhammadiyah Magelang — bukan karena saya haus gelar, tetapi karena saya ingin terus memperdalam ilmu manajemen untuk memperkuat fondasi lembaga yang saya bangun.

Dan di sisi lain, saya juga menekuni bidang NLP (Neuro-Linguistic Programming) serta Law of Attraction, dua bidang yang membantu saya memahami lebih dalam tentang kekuatan pikiran dan energi dalam meraih kesuksesan.

Keduanya menjadi pondasi spiritual dan psikologis dalam setiap langkah bisnis, pelatihan, dan pembinaan yang saya lakukan.

Misi untuk Bangsa

Setiap hari, saya melihat wajah-wajah penuh harapan dari para peserta pelatihan. Anak-anak muda dari berbagai daerah datang dengan mimpi sederhana: ingin membahagiakan orang tua, ingin mandiri, ingin punya masa depan lebih baik.

Dan saya tahu, tugas saya bukan hanya mengajari mereka bahasa Jepang atau budaya kerja — tapi juga membangun karakter, mental, dan kepercayaan diri.

Lewat PT Saitama, saya ingin melahirkan generasi muda yang:

  • Berdaya saing global
  • Sejahtera secara finansial
  • Dan berakhlak profesional

Inilah bentuk kecil pengabdian saya kepada bangsa, agama, dan keluarga.

Dari Magelang, untuk Dunia

Perjalanan saya dimulai dari kota kecil di Magelang, menuju negeri matahari terbit, dan kembali dengan cahaya baru. Saya percaya, setiap langkah hidup kita punya tujuan — dan setiap pengalaman, baik manis maupun pahit, adalah guru terbaik yang membentuk siapa kita hari ini.

Jika ada satu pesan yang ingin saya sampaikan kepada generasi muda Indonesia, maka itu adalah ini:

“Jangan takut bermimpi besar. Tapi ingat, impian tidak akan berarti tanpa disiplin, kerja keras, dan niat yang tulus.”

Kita semua bisa berhasil — asalkan kita mau terus belajar, terus berjuang, dan tidak pernah melupakan dari mana kita berasal.