Ada sebuah pepatah Jepang yang selalu saya pegang teguh:
“Nana korobi, ya oki” — jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali.
Kalimat sederhana itu menggambarkan perjalanan hidup saya dengan sangat tepat. Saya lahir dan besar di Magelang, sebuah kota yang tenang namun sarat nilai perjuangan. Dari kota kecil inilah saya menapaki perjalanan yang membawa saya ke negeri Sakura — Jepang — lalu kembali dengan satu tekad: mengabdi untuk membangun generasi muda Indonesia agar mampu berdiri tegak di panggung dunia.
Awal Perjalanan: Impian Anak Magelang
Sejak muda, saya selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia luar. Saya melihat Jepang bukan hanya sebagai negara maju secara teknologi, tetapi juga maju dalam mentalitas manusianya — disiplin, pekerja keras, dan punya komitmen yang luar biasa terhadap kualitas.
Pada tahun 2007, saya berkesempatan berangkat ke Jepang melalui program magang resmi IM Japan, dan ditempatkan di KOEICMC Co., LTD. Saat itu, saya tidak hanya membawa koper dan paspor, tetapi juga membawa harapan besar dari keluarga dan doa dari kampung halaman.
Saya masih ingat hari pertama di pabrik. Bahasa Jepang saya belum lancar, ritme kerja cepat, dan standar sangat tinggi. Tapi saya belajar satu hal penting: di Jepang, tidak ada kata setengah-setengah. Kalau mengerjakan sesuatu, lakukan dengan sepenuh hati dan tepat waktu.
Itulah pelajaran pertama saya tentang profesionalisme sejati.

Pelajaran dari Negeri Sakura
Selama hampir tiga tahun di Jepang, saya belajar lebih dari sekadar pekerjaan teknis. Saya belajar tentang disiplin diri, tanggung jawab pribadi, dan rasa malu jika tidak memberikan yang terbaik.
Setiap pagi, kami mulai bekerja tepat waktu. Tidak ada yang datang terlambat. Tidak ada alasan.
Jika ada kesalahan, kami tidak menyalahkan orang lain — kami refleksi, memperbaiki, dan berjanji tidak mengulanginya.
Dari sanalah saya memahami bahwa keberhasilan bukanlah hasil keberuntungan, melainkan hasil kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Saya melihat bagaimana orang Jepang menghormati waktu, menghargai pekerjaan, dan menjaga kehormatan diri lewat hasil kerja. Itu mengubah cara pandang saya terhadap hidup dan kesuksesan.
Dan yang paling penting: saya belajar menghormati proses.
Kembali ke Indonesia: Menanam Nilai, Bukan Sekadar Membangun Lembaga
Sekembalinya ke Indonesia, saya membawa misi baru: bagaimana agar nilai-nilai baik yang saya pelajari di Jepang bisa menjadi bagian dari mentalitas generasi muda kita?
Tahun 2013 menjadi titik awal perjalanan itu. Saya mendirikan LPK Saitama, sebuah lembaga pelatihan kerja yang berfokus menyiapkan anak muda Indonesia untuk bekerja di Jepang melalui jalur resmi pemerintah.
Namun sejak awal, saya tidak ingin lembaga ini hanya sekadar tempat pelatihan bahasa.
Saya ingin menjadikannya pusat pembentukan karakter.
Karena saya percaya, kemampuan teknis tanpa mentalitas yang kuat hanya akan menghasilkan pekerja — bukan pemimpin.
Maka setiap program di LPK Saitama kami rancang dengan sentuhan nilai: disiplin, tanggung jawab, ketulusan, dan rasa syukur. Kami ingin anak-anak muda kita tidak hanya bisa “bekerja di Jepang”, tapi juga “berpikiran seperti orang Jepang dan berhati seperti orang Indonesia.”
Dari LPK ke PT Saitama: Mimpi yang Tumbuh Bersama Waktu

Perjalanan LPK Saitama tidak selalu mudah. Ada masa-masa sulit, penuh tantangan administratif dan persaingan. Tapi setiap hambatan saya pandang sebagai ujian kesungguhan.
Selangkah demi selangkah, lembaga kami tumbuh. Hingga akhirnya, pada tahun 2023, LPK Saitama resmi berkembang menjadi PT Saitama.
Transformasi ini bukan hanya soal status hukum, tapi juga perluasan visi. Kami ingin bukan hanya melatih, tapi juga membina dan memberdayakan generasi muda Indonesia. Dari sinilah kemudian lahir Ayaka Josei Center — pusat pelatihan perempuan untuk bidang Kaigo (perawatan lansia) yang kami bangun dengan penuh kasih dan kesungguhan.
Saya percaya, perempuan adalah tiang keluarga, dan ketika mereka berdaya, maka bangsa ini akan lebih kuat. Ayaka Josei Center menjadi bentuk nyata komitmen kami dalam memberdayakan perempuan Indonesia dengan profesionalisme dan kemandirian.
Filosofi Hidup: Sukses yang Sesungguhnya
Dari pengalaman panjang ini, saya menyimpulkan satu hal:
Kesuksesan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi kita naik, tetapi dari seberapa banyak orang yang kita bantu untuk ikut naik bersama kita.
Saya tidak ingin hanya sukses secara pribadi. Saya ingin membangun sistem yang bisa membuat ribuan anak muda Indonesia menemukan jalan suksesnya sendiri — dengan cara yang jujur, disiplin, dan bermartabat.
Karena itu, saya tidak pernah berhenti belajar. Saat ini saya sedang menempuh S2 Manajemen di Universitas Muhammadiyah Magelang — bukan karena saya haus gelar, tetapi karena saya ingin terus memperdalam ilmu manajemen untuk memperkuat fondasi lembaga yang saya bangun.
Dan di sisi lain, saya juga menekuni bidang NLP (Neuro-Linguistic Programming) serta Law of Attraction, dua bidang yang membantu saya memahami lebih dalam tentang kekuatan pikiran dan energi dalam meraih kesuksesan.
Keduanya menjadi pondasi spiritual dan psikologis dalam setiap langkah bisnis, pelatihan, dan pembinaan yang saya lakukan.
Misi untuk Bangsa
Setiap hari, saya melihat wajah-wajah penuh harapan dari para peserta pelatihan. Anak-anak muda dari berbagai daerah datang dengan mimpi sederhana: ingin membahagiakan orang tua, ingin mandiri, ingin punya masa depan lebih baik.
Dan saya tahu, tugas saya bukan hanya mengajari mereka bahasa Jepang atau budaya kerja — tapi juga membangun karakter, mental, dan kepercayaan diri.
Lewat PT Saitama, saya ingin melahirkan generasi muda yang:
- Berdaya saing global
- Sejahtera secara finansial
- Dan berakhlak profesional
Inilah bentuk kecil pengabdian saya kepada bangsa, agama, dan keluarga.
Dari Magelang, untuk Dunia
Perjalanan saya dimulai dari kota kecil di Magelang, menuju negeri matahari terbit, dan kembali dengan cahaya baru. Saya percaya, setiap langkah hidup kita punya tujuan — dan setiap pengalaman, baik manis maupun pahit, adalah guru terbaik yang membentuk siapa kita hari ini.
Jika ada satu pesan yang ingin saya sampaikan kepada generasi muda Indonesia, maka itu adalah ini:
“Jangan takut bermimpi besar. Tapi ingat, impian tidak akan berarti tanpa disiplin, kerja keras, dan niat yang tulus.”
Kita semua bisa berhasil — asalkan kita mau terus belajar, terus berjuang, dan tidak pernah melupakan dari mana kita berasal.




